Materi SENI BUDAYA BAB 2 Musik Tradisional SMA/SMK Kelas 10 Semester 1

BAB 2 MUSIK TRADISIONAL 

A. Pengertian Musik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Musik merupakan salah satu bentuk kebutuhan ekspresif manusia. Sebagai kebutuhan ekspresif, musik digunakan manusia untuk mengekspresikan gagasan atau ide melalui bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh beragam media atau instrumen yang ada di lingkungan sekitar mereka, baik instrumen bernada atau tidak bernada (perkusif). Instrumen bernada disebut melodis karena memiliki nada dan irama serta memunculkan bunyi yang teratur dan memiliki frekuensi tunggal tertentu, contohnya alat musik Piano, Recorder, Gitar, seperangkat Gamelan, dll. Instrumen tidak bernada disebut sebagai instrumen ritmis. Disebut tidak bernada karena alat – alat musik ini hanya digunakan sebagai keteraturan lagu, contohnya Rebana, Ketipung, Tamborin, dll.


 
B. Musik Tradisional

Musik Tradisional adalah musik yang hidup dan berkembang secara turun temurun di suatu daerah tertentu. Dengan istilah lain musk tradisional disebut karawitan. Karawitan merupakan kesenian daerah yang diwujudkan dalam bentuk bahasa bunyi. Sebagaimana diungkapkan Suryana dalam Budiwati (1985) “Karawitan adalah musik daerah-daerah Indonesia”. Musik adalah salah satu cabang kesenian yang mempergunakan bunyi, suara, dan nada sebagai bahan bakunya (substansi dasar).

            Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang unik dan khas. Jenis musik yang tumbuh dan berkembang di masing-masing daerah itu memiliki kekhasan dan keunikannya sebagai ciri budanya, hal itu dapat dilihat dari teknik permainanya, bentuk penyajiannya, fungsinya, maupun organologi bentuk alat musiknya, seperti gamelan dari Sunda, Jawa, dan Bali, Gambang Kromong dan Tanjidor dari Betawi, Tarling dari Cirebon, Gondang dari Sunda dan Talempong dari Sumatera, Safe dari Kalimantan, Tifa Totobuang dari Maluku, Bijol dan Sasando dari Nusa Tenggara Timur, Pa’abas dari Toraha Sulawesi Selatan, dsb.

            Musik Tradisional ini menggunakan bahasa, gaya, dan tradisi khas daerah setempat, yang perlu ditumbuhkembangkan dan dilestarikan serta dipertahankan nilai-nilai estetisnya untuk menambah perbendaharaan seni yang ada dimasyarakat. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa, sepatutnyalah mengenal, melestarikan dan mengapresiasikan seni musk tradisional itu yang merupakan ciri dan identitas budaya bangsa Indonesia, jangan sampai keberadaannya diakui dan dirampas oleh budaya bangsa lain.

C. Musik Sebagai Simbol

1.      Simbol Musik

Musik, seperti halnya cabang seni lain, sangat sarat dengan simbol-simbol tertentu yang berhubungan erat dengan makna tertentu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Simbol-simbol tersebut tampak pada karakter bunyi yang dihasilkan oleh instrumen-instrumen tersebut (musikal), termasuk vokal/suara manusia. Secara musikal, simbol-simbol musik dapat tampak pada elemen-elemen di dalamnya, seperti tinggi-rendahnya nada, ritme, dinamika, atau tempo.

Elemen Musik

Penjelasan

Nada (pitch)

Tinggi rendahnya bunyi

Ritme

Durasi setiap bunyi

Dinamika

Perubahan bunyi yang terdengar keras menjadi semakin lembut atau bunyi yang terdengar kembut menjadi semakin keras

Tempo

Kecepatan musik/lagu : sangat cepat, cepat, sedang, lambat, atau sangat lambat.


Simbol musik juga dapat dilihat dari aspek nonmusikalnya. Salah satu contoh simbol nonmusikal adalah instrumen musik berdasarkan pada bentuk, bahan pembuat instrumen, warna, atau ornamen-ornamen yang tampak pada instrumen tersebut. Perhatikan salah satu contoh simbol musik nonmusikal pada alat musik dibawah.
 

 

Alat musik tradisional Saluang sendiri berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang. Cara menggunakan alat musik ini dengan ditiup dan lubang yang ada di salung pun digunakan untuk mengatur nada dan jari-jari tangan berfungsi untuk menutup pada lubang tersebut.

 

2.    Nilai Estetika Musik

Seni musik merupakan sebuah konfigurasi gagasan dan kekuatan yang kadangkala melampaui batas-batas realitas hidup yang ada. Hal tersebut karena melalui pernyataan rasa estetis dan gagasan itulah seni musik dapat dijadikan sebagai ciri identitas kebudayaan masyarakat pendukungnya. Seni musik merupakan pengejawantahan rasa estetis manusia sebagai tuntutan rohaniah akan keindahan. Seni musik dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan estetis, selain dapat dipergunakan dalam berbagai kepentingan budaya mulai dari kegiatan ritual keagamaan sampai kepada propaganda politik dan kegiatan pendidikan.

Musik dapat dikatakan estetik jika unsur-unsur yang membangun seni itu sendiri terpenuhi. Cakupan makna estetik sangat luas karena tidak hanya berkaitan dengan rasa keindahan saja tetapi segala perasaan. Jika kita mengamati hasil karya seniman kreatif dewasa ini, tidak sulit untuk menemukan karya yang menurut pandangan yang lazim tak lagi indah. Atas dasar itulah, filosof Suzanne Langer memandang seni sebagai media untuk mengungkapkan perasaan. Perasaan yang diungkapkan tidaklah harus identik dengan keindahan meskipun keindahan itu dapat dihayati sebagai perasaan yang bersifat khusus.

Instrumen yang terbuat dari bambu, misalnya, tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi digunakan pula di banyak negara lain, seperti Filipina (marimba, angklung, tumpong), Thailand (khene), Vietnam (Dan Bau), Arab (nay atau serunai Arab), Jepang (shakuhachi), dan Cina (dizi).

Bunyi instrumen yang terbuat dari bambu seringkali dipandang menghasilkan bunyi yang ‘indah’ oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat Sunda, misalnya. Penilaian ‘indah’ terhadap bunyi yang dihasilkan oleh angklung tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Sunda. Masyarakat Sunda dikenal sebagai masyarakat yang akrab atau dekat dengan lingkungan alam. Mereka memandang lingkungan hidupnya sebagai sesuatu yang ‘indah’, yang harus dihormati, diakrabi, dipelihara, dan dirawat. Kedekatan masyarakat Sunda dengan lingkungan alam tampak pada tindakan mereka untuk menjadikan bahan-bahan dari lingkungan sekitar, misalnya bambu, sebagai bagian dari kebutuhan untuk mengekspresikan keindahan. 


D. Jenis Musik Tradisional

 

Dalam konsteks estetik, jenis musik baik seni musik barat maupun untuk tradisional merupakan bahasa simbolik yang bersifat dinamis. Secara umum bahasa musik dapat digolongkan menjadi tiga bentuk penyajian yaitu musik vokal, musik instrumen dan musik campuran.

1.      Musik Vokal adalah seni suara yang dihasilkan melalui mulut manusia

2.      Musik Instrumen adalah seni suara yang dihasilkan oleh suara alat-alat musik atau media bunyi-bunyian

3.      Musik Campuran adalah seni suara yang dihasilkan dari paduan seni suara vokal dan bunyi instrumen

Dilihat dari segi pergelarannya, seni karawitan atau musik tradisional dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu :

1.      Karawitan Sekar adalah seni suara, atau vokal daerah yang diungkapkan melalui suara mulut manusia yang bersentuhan dengan nada, bunyi, atau instrumen pendukungnya.

2.      Karawitan Gending adalah seni suara yang diungkapkan melalui alat musik daerah, atau alat bunyi-bunyian. Musik instrumen dalam istilah karawitan disebut gending dapat diklasifikasikan berdasarkan cara produksi suara dan sumber bahan yang berbunyi yaitu :

a.       Chardophone, yaitu kelompok alat musik yang sumber bunyinya dari dawai (kawat atau snar), contohnya Gitar, Harpa, Sasando, dll.

b.      Idiophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari badan alat musik itu sendiri yang terbuat dari bahan perunggu, besi, kayu. Contohnya Angklung, Kolintang, Gong, Bonang, dll.

c.       Membranophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari kulit atau paber glass, contohnya Tabla, Gendang, Rebana, Ganda, dll.

d.      Aerophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari udara, contohnya Suling, Terompet, Serunai Kale, dll.

e.       Electrophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari aliran listrik, contohnya Gitar Elektrik, Keyboard, Drum Elektrik, Bass Elektrik, dll.

 

3.       Karawitan Sekar Gending adalah bentuk penyajian seni suara daerah yang memadukan sekar dan gending. Sekar gending memiliki arti bentuk sajian seni suara dalam bentuk nyanyian yang diiringi instrumen. Kedua jenis suara itu mempunyai tugas yang sama beratnya, keduanya saling mengisi dan mempunyai keterkaitan yang tak dapat dipisahkan.

E. Fungsi Musik Tradisional

1.        Sarana Upacara Budaya (Ritual)

Musik di Indonesia, biasanya berkaitan erat dengan upacara- upacara kematian, perkawinan, kelahiran, serta upacara keagamaan dan kenegaraan. Di beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen seperti itu dipakai sebagai sarana kegiatan adat masyarakat.

2.        Sarana Hiburan

Dalam hal ini, musik merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menonton pagelaran musik. Jika ada perunjukan musik di daerah mereka, mereka akan berbondong- bondong mendatangi tempat pertunjukan untuk menonton.

3.        Sarana Ekspresi Diri

Bagi para seniman (baik pencipta lagu maupun pemain musik), musik adalah media untuk mengekspresikan diri mereka. Melalui musik, mereka mengaktualisasikan potensi dirinya. Melalui musik pula, mereka mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita- cita tentang diri, masyarakat, Tuhan, dan dunia.

4.        Sarana Komunikasi

Di beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja.

5.        Pengiring Tarian

Di berbagai daerah di Indonesia, bunyi- bunyian atau musik diciptakan oleh masyarakat untuk mengiringi tarian- tarian daerah. Oleh sebab itu, kebanyakan tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi olehmusik daerahnya sendiri.


Berikut Beberapa Cuplikan Permainan Alat Musik Tradisinal Indonesia

Komentar