Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi,
dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai
kesatuan dan kesinambungan. Musik merupakan salah satu bentuk
kebutuhan ekspresif manusia. Sebagai kebutuhan ekspresif, musik digunakan
manusia untuk mengekspresikan gagasan atau ide melalui bunyi-bunyi yang
dihasilkan oleh beragam media atau instrumen yang ada di lingkungan sekitar
mereka, baik instrumen bernada atau tidak bernada (perkusif). Instrumen bernada
disebut melodis karena memiliki nada dan irama serta memunculkan bunyi yang
teratur dan memiliki frekuensi tunggal tertentu, contohnya alat musik Piano,
Recorder, Gitar, seperangkat Gamelan, dll. Instrumen tidak bernada disebut
sebagai instrumen ritmis. Disebut tidak bernada karena alat – alat musik ini
hanya digunakan sebagai keteraturan lagu, contohnya Rebana, Ketipung, Tamborin,
dll.
Musik Tradisional adalah musik yang
hidup dan berkembang secara turun temurun di suatu daerah tertentu. Dengan
istilah lain musk tradisional disebut karawitan. Karawitan merupakan kesenian
daerah yang diwujudkan dalam bentuk bahasa bunyi. Sebagaimana diungkapkan
Suryana dalam Budiwati (1985) “Karawitan adalah musik daerah-daerah Indonesia”.
Musik adalah salah satu cabang kesenian yang mempergunakan bunyi, suara, dan
nada sebagai bahan bakunya (substansi dasar).
Hampir
diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang unik dan
khas. Jenis musik yang tumbuh dan berkembang di masing-masing daerah itu
memiliki kekhasan dan keunikannya sebagai ciri budanya, hal itu dapat dilihat
dari teknik permainanya, bentuk penyajiannya, fungsinya, maupun organologi
bentuk alat musiknya, seperti gamelan dari Sunda, Jawa, dan Bali, Gambang
Kromong dan Tanjidor dari Betawi, Tarling dari Cirebon, Gondang dari Sunda dan
Talempong dari Sumatera, Safe dari Kalimantan, Tifa Totobuang dari Maluku,
Bijol dan Sasando dari Nusa Tenggara Timur, Pa’abas dari Toraha Sulawesi
Selatan, dsb.
1.
Simbol
Musik
Musik,
seperti halnya cabang seni lain, sangat sarat dengan simbol-simbol tertentu
yang berhubungan erat dengan makna tertentu dalam kehidupan masyarakat
pendukungnya. Simbol-simbol tersebut tampak pada karakter bunyi yang dihasilkan
oleh instrumen-instrumen tersebut (musikal), termasuk vokal/suara manusia.
Secara musikal, simbol-simbol musik dapat tampak pada elemen-elemen di
dalamnya, seperti tinggi-rendahnya nada, ritme, dinamika, atau tempo.
|
Elemen Musik |
Penjelasan |
|
Nada (pitch) |
Tinggi rendahnya bunyi |
|
Ritme |
Durasi setiap bunyi |
|
Dinamika |
Perubahan bunyi yang terdengar keras
menjadi semakin lembut atau bunyi yang terdengar kembut menjadi semakin keras |
|
Tempo |
Kecepatan musik/lagu : sangat cepat,
cepat, sedang, lambat, atau sangat lambat. |
Simbol musik juga dapat dilihat dari aspek nonmusikalnya. Salah satu contoh simbol nonmusikal adalah instrumen musik berdasarkan pada bentuk, bahan pembuat instrumen, warna, atau ornamen-ornamen yang tampak pada instrumen tersebut. Perhatikan salah satu contoh simbol musik nonmusikal pada alat musik dibawah.
Alat
musik tradisional Saluang sendiri berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat yang
mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang. Cara menggunakan
alat musik ini dengan ditiup dan lubang yang ada di salung pun digunakan untuk
mengatur nada dan jari-jari tangan berfungsi untuk menutup pada lubang tersebut.
2. Nilai Estetika Musik
Seni musik merupakan sebuah konfigurasi gagasan dan kekuatan yang
kadangkala melampaui batas-batas realitas hidup yang ada. Hal tersebut karena
melalui pernyataan rasa estetis dan gagasan itulah seni musik dapat dijadikan
sebagai ciri identitas kebudayaan masyarakat pendukungnya. Seni musik merupakan
pengejawantahan rasa estetis manusia sebagai tuntutan rohaniah akan keindahan.
Seni musik dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan estetis, selain dapat
dipergunakan dalam berbagai kepentingan budaya mulai dari kegiatan ritual
keagamaan sampai kepada propaganda politik dan kegiatan pendidikan.
Musik dapat dikatakan estetik jika unsur-unsur yang membangun seni itu
sendiri terpenuhi. Cakupan makna estetik sangat luas karena tidak hanya
berkaitan dengan rasa keindahan saja tetapi segala perasaan. Jika kita
mengamati hasil karya seniman kreatif dewasa ini, tidak sulit untuk menemukan
karya yang menurut pandangan yang lazim tak lagi indah. Atas dasar itulah,
filosof Suzanne Langer memandang seni sebagai media untuk mengungkapkan
perasaan. Perasaan yang diungkapkan tidaklah harus identik dengan keindahan
meskipun keindahan itu dapat dihayati sebagai perasaan yang bersifat khusus.
Instrumen
yang terbuat dari bambu, misalnya, tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi
digunakan pula di banyak negara lain, seperti Filipina (marimba, angklung,
tumpong), Thailand (khene), Vietnam (Dan Bau), Arab (nay atau serunai Arab),
Jepang (shakuhachi), dan Cina (dizi).
Bunyi instrumen yang terbuat dari bambu seringkali dipandang menghasilkan bunyi yang ‘indah’ oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat Sunda, misalnya. Penilaian ‘indah’ terhadap bunyi yang dihasilkan oleh angklung tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Sunda. Masyarakat Sunda dikenal sebagai masyarakat yang akrab atau dekat dengan lingkungan alam. Mereka memandang lingkungan hidupnya sebagai sesuatu yang ‘indah’, yang harus dihormati, diakrabi, dipelihara, dan dirawat. Kedekatan masyarakat Sunda dengan lingkungan alam tampak pada tindakan mereka untuk menjadikan bahan-bahan dari lingkungan sekitar, misalnya bambu, sebagai bagian dari kebutuhan untuk mengekspresikan keindahan.
Dalam
konsteks estetik, jenis musik baik seni musik barat maupun untuk tradisional
merupakan bahasa simbolik yang bersifat dinamis. Secara umum bahasa musik dapat
digolongkan menjadi tiga bentuk penyajian yaitu musik vokal, musik instrumen
dan musik campuran.
1. Musik
Vokal adalah seni suara yang dihasilkan melalui mulut manusia
2. Musik
Instrumen adalah seni suara yang dihasilkan oleh suara alat-alat musik atau
media bunyi-bunyian
3. Musik
Campuran adalah seni suara yang dihasilkan dari paduan seni suara vokal dan
bunyi instrumen
Dilihat
dari segi pergelarannya, seni karawitan atau musik tradisional dapat dibagi
menjadi tiga kelompok besar, yaitu :
1. Karawitan
Sekar adalah seni suara, atau vokal daerah yang diungkapkan melalui suara mulut
manusia yang bersentuhan dengan nada, bunyi, atau instrumen pendukungnya.
2. Karawitan
Gending adalah seni suara yang diungkapkan melalui alat musik daerah, atau alat
bunyi-bunyian. Musik instrumen dalam istilah karawitan disebut gending dapat
diklasifikasikan berdasarkan cara produksi suara dan sumber bahan yang berbunyi
yaitu :
a. Chardophone,
yaitu kelompok alat musik yang sumber bunyinya dari dawai (kawat atau snar),
contohnya Gitar, Harpa, Sasando, dll.
b. Idiophone,
yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari badan alat musik itu sendiri yang
terbuat dari bahan perunggu, besi, kayu. Contohnya Angklung, Kolintang, Gong,
Bonang, dll.
c. Membranophone,
yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari kulit atau paber glass, contohnya
Tabla, Gendang, Rebana, Ganda, dll.
d. Aerophone,
yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari udara, contohnya Suling, Terompet,
Serunai Kale, dll.
e. Electrophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari aliran listrik, contohnya Gitar Elektrik, Keyboard, Drum Elektrik, Bass Elektrik, dll.
3. Karawitan
Sekar Gending adalah bentuk penyajian seni suara daerah yang memadukan sekar
dan gending. Sekar gending memiliki arti bentuk sajian seni suara dalam bentuk
nyanyian yang diiringi instrumen. Kedua jenis suara itu mempunyai tugas yang
sama beratnya, keduanya saling mengisi dan mempunyai keterkaitan yang tak dapat
dipisahkan.
1.
Sarana Upacara Budaya (Ritual)
Musik
di Indonesia, biasanya berkaitan erat dengan upacara- upacara kematian,
perkawinan, kelahiran, serta upacara keagamaan dan kenegaraan. Di beberapa
daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini
memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen seperti itu dipakai sebagai
sarana kegiatan adat masyarakat.
2.
Sarana Hiburan
Dalam
hal ini, musik merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat
rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan
warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menonton
pagelaran musik. Jika ada perunjukan musik di daerah mereka, mereka akan
berbondong- bondong mendatangi tempat pertunjukan untuk menonton.
3.
Sarana Ekspresi Diri
Bagi
para seniman (baik pencipta lagu maupun pemain musik), musik adalah media untuk
mengekspresikan diri mereka. Melalui musik, mereka mengaktualisasikan potensi
dirinya. Melalui musik pula, mereka mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan,
dan cita- cita tentang diri, masyarakat, Tuhan, dan dunia.
4.
Sarana Komunikasi
Di
beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu
bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki pola
ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu
peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum digunakan dalam masyarakat Indonesia
adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja.
5.
Pengiring Tarian
Di
berbagai daerah di Indonesia, bunyi- bunyian atau musik diciptakan oleh
masyarakat untuk mengiringi tarian- tarian daerah. Oleh sebab itu, kebanyakan
tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi olehmusik daerahnya sendiri.
https://www.romadecade.org/alat-musik-pukul/#!
https://www.romadecade.org/alat-musik-tradisional/
https://www.mikirbae.com/2016/03/nilai-estetis-seni-musik.html
https://kabarhandayani.com/karawitan/2/
https://kabarhandayani.com/karawitan/2/
https://www.wikiwand.com/id/Tabla
http://nurlaprilia.blogspot.com/2012/10/alat-musik-keyboard.html




Komentar
Posting Komentar